Home / BERITA LAW FIRM / Ngeri, Pengacara Maftuh Basyuni Minta GPII Hengkang dari Tanah Menteng Raya 58?

Ngeri, Pengacara Maftuh Basyuni Minta GPII Hengkang dari Tanah Menteng Raya 58?

f88d0e0401b46f4ca19bc838e41ace07

JAKARTA – Pasca Muktamar Bersama GPI-GPII di Medan, 9-12 Desember 2013, Perseteruan Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Islam (PP GPI) dengan Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) tak kunjung usai.

Menjelang pelaksanaan pemilihan umum 2014, konflik keduanya bukan mereda namun justru semakin sengit dan memanas. PP GPI melalui kuasa hukumnya, Khoirul Amin,SH. menyebut Ketua Umum GPII, Karman, telah menyebarkan berita bohong alias tidak benar.

Hal itu dikatakan Khoirul Amin,SH. terkait adanya penyekapan anggota GPII dan penggembokan kantor yang terletak di Jalan Menteng Raya No. 58, Jakarta Pusat. “Itu sebuah fitnah kejam dan kebohongan besar. Karena, yang melakukan penggembokan adalah anggota GPII sendiri. bernama Khairudin Rumalutur,” katanya kepada wartawan melalui keterangan tertulis di Jakarta, Senin (10/2).

Perseteruan di antara keduanya semakin memanas ketika Ketua Umum GPII, Karman, membawa nama mantan Menteri Agama, Maftuh Basyuni, dalam pertikaian tersebut.

Khoirul Amin,SH. menjelaskan, Karman mencatut nama mantan Menteri Agama tersebut agar melegalkan aksi  penyerobotan sepihak yang dilakukan aktivis GPII dengan menguasai kantor GPI yang berada di kawasan Menteng.

Padahal, lanjut dia, tidak ada hubungan dan keterkaitan apa pun antara Maftuh Basyuni dan perselisihan yang semakin meruncing  antara PP- GPI dan GPII, serta permasalahan tanah Menteng Raya No 58 yang juga sebagai kantor PP GPI.

“Kami selaku kuasa hukum PP-GPI meminta kepada GPII harus segera mencabut statemennya tersebut secara resmi dan meminta maaf secara terbuka dan tertulis kepada PP- GPI dan Pak Maftuh Basyuni,” ujar Amin.

Bukan hanya itu, Amin juga mendesak GPII untuk segera mematuhi seruan yang ia sampaikan. Sebab, jika permintaan tersebut tidak dihiraukan dalam waktu 2 x 24 jam, ia akan menempuh jalur hukum berdasarkan undang-undang dan peraturan yang berlaku.

“GPII harus segera mengosongkan dan meninggalkan Kantor atau Sekretariat PP GPI dan meninggalkan segala atribut GPII yang terpasang di Jalan Menteng Raya No 58 yang selama ini dijadikan markas. Sebab, markas GPII yang sebenarnya berada Jalan Batu No 2 Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Sementara kantor yang berada di Jalan Menteng Raya No 58 adalah markas PP GPI,” tutupnya.

Maftuh Basyuni Terlibat

Ketua Konvensi Capres Partai Demokrat yang juga mantan Menteri Agama RI, Maftuh Basyuni diminta  untuk menghentikan upaya penguasaan sekaligus penyerobotan tanah di lokasi perjuangan aktivis Islam tersebut.

“Sebagai tokoh dengan kehormatan di pentas nasional, Maftuh Basyuni tidak sepantasnya berada di balik penguasaan ataupun penyerobotan tanah Menteng Raya 58, lebih-lebih untuk kepentingan bisnis bagi PT AAT yang diduga sebagai perusahaan milik anaknya,” kata Ketua Umum PP GPII Karman Sabtu (8/2/2014) malam seperti dilansir edisinews.com.

Menurutnya, Maftuh juga harus menjelaskan kepada publik sejauh mana keterlibatan dirinya dalam tujuan pengambilalihan tanah Menteng Raya 58 yang telah disertai pemaksaan pembelian, tindak penyerobotan, termasuk akan mengupayakan langkah pengosongan para penghuninya.

Ia menambahkan, di duga ada tidaknya peran Maftuh memerlukan penjelasan langsung dari pihaknya, apalagi namanya kerap disebut terkait penguasaan tanah Mentra 58 itu.

Dijelaskan, kasus penyerbuan oleh sekitar 50 orang yang dicurigai sebagai preman ”bayaran” terhadap Sekretariat PP GPII, merupakan peristiwa nyata yang mengindikasikan ke arah penguasaan tanah Menteng Raya 58.

Pada peristiwa Kamis (6/2/3014) malam itu, markas pusat GPII memang dikejutkan oleh kehadiran sekelompok preman bertato dan dilengkapi peralatan rantai. “Gayanya sangat preman,” tegas Karman.

Kehadiran mereka yang tiba-tiba sempat mengagetkan para aktivis yang berada di situ. Para preman itu bukan saja mengepung tetapi menggembok Sekretariat Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Islam Indonesia (PB PII) dan Pelajar Islam Indonesia (PII).

Tak sekedar itu, sejumlah aktivis pun disandera di dalamnya. Diduga kuat, kasus penyerbuan ke markas GPII atas suruhan pihak tertentu yang ingin menguasai tanah Menteng Raya 58.

Sebab, tanpa pesanan, tidak mungkin komplek dengan lingkungan para aktivis sederhana itu harus diserbu. Pasalnya, belakangan ini lokasi Menteng Raya 58 seolah menceritakan mimpi buruk.

Sudah lama sejumlah pihak dengan tujuan bisnis ngin mengambilalih tanah atau komplek itu. Berbagai langkah untuk mengusir GPII dan PII atau berdalih membeli, terus diupayakan seperti terjadi pada Kamis malam dengan melibatkan para preman. Lantas, siapa sesungguhnya yang paling bersemangat mengambialih tanah itu, boleh jadi tak terlalu sulit menebaknya.

Dikabarkan, sebuah perusahaan berbendera PT AAT sangat berminat untuk bisa menduduki lokasi Menteng Raya 58. Komplek perjuangan Menteng Raya 58 di antaranya memayungi basis pergerakan Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) dan Pelajar Islam Indonesia (PII), yang eksistensinya begitu terkenal di kalangan aktivis maupun pelaku sejarah perjuangan keumatan (Islam).

Seperti halnya Jalan Diponegoro No 16 di bilangan Menteng, Jakarta Pusat untuk kegiatan Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), komplek seluas lebih 5.600 meter persegi itu jelas menjadi tempat yang nyaman di samping melahirkan banyak kenangan manis berikut duka.

Selain menjadi markas utama untuk PP GPII dan PB PII, Menteng Raya 58 menampung beberapa keluarga akibat leluhurnya pernah berkiprah di tempat itu.

Selanjutnya, jangan dilupakan, Sekretariat YAKPI (Yayasan Kesejahteraan Pemuda Islam Indonesia) selaku pemilih sah secara hukum tanah Menteng Raya 58.

Adapun lokasi strategis Menteng Raya 58 mengarah ke Istana Negara dan di sekitarnya terdapat Gedung Pusat Dakwah milik PP Muhammadiyah, serta menggandeng salah satu bangunan cukup luas yang dimiliki Kementerian Pertahanan RI.

Sekretariat GPII Menteng Dikepung Oknum Tak Dikenal

Sekretariat PP Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) di Jalan Menteng Raya 58, Jakarta Pusat dikepung oleh oknum tak dikenal.

Ketua Umum GPII Karman menjelaskan, oknum tak dikenal itu dicurigai sebagai preman.

“Mereka bertato dan membawa rantai dengan gaya-gaya preman. Mereka menggembok dan mengunci pintu-pintu gedung utama di mana GPII dan PII berkantor,” kata Karman mengutip Aktual.co, Kamis malam (6/2).

“Mereka menyekap pengurus GPII yang sedang beraktifitas di dalam,” sambungnya.

Diduga, oknum tersebut adalah kelompok yang ingin menguasai tanah Menteng Raya 58 milik GPII dan Yakpi (Yayasan Kesejahteraan Pemuda Islam Indonesia).

Setelah Muktamar di Medan tgl 9-12 Desember kemarin di Medan, GPI dan GPII sepakat menjadi satu dengan nama GPII

Kembali ke GPII

Setelah terpecah dan memisahkan diri, Gerakan Pemuda Islam (GPI) bersatu kembali ke dalam satu organisasi Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII).

Mantan Ketua Umum GPII Ahmad Toha Almansur dalam surat elektronik yang diterima di Jakarta, Sabtu, menyebutkan bersatunya kembali GPI ke GPII merupakan hasil dari kongres di Medan 9-12 Desember 2013 yang menyepakati semangat persatuan umat Islam di organisasi itu.

Setelah sekian lama dilakukan upaya menyatukan kembali organisasi pemuda yang terpecah dalam dua wadah tersebut akhirnya menghasilkan kesepakatan untuk bersatu dalam satu wadah GPII.

“Ini mengharukan karena kesepakatan untuk kembali dalam satu wadah dapat terlahir melalui proses yang singkat dan penuh ukhuwah,” katanya.

Upaya menyatukan kembali organisasi yang berdiri pada 1945 itu telah dilakukan oleh beberapa tokoh Islam ini selalu mengalami kegagalan.

Namun berkat kesepakatan-kesepakatan informal sebelum Muktamar akhirnya penyatuan kembali GPI-GPI.

“Ini merupakan produk kebesaran jiwa dari para senior kami serta kelapangan dada para pimpinan di tingkat pusat maupun wilayah dan cabang GPI-GPII. Semangat seperti ini pantas menjadi contoh untuk membangun ukhuwah Islamiyah,” kata Toha.

Kongres juga menjadi forum pertanggungjawaban kedua organisasi kepemudaan tersebut.

Dalam kongres tersebut juga berhasil memunculkan ketua umum baru.

Dalam pemungutan suara, Tubagus Mohammad Sholehuddin memperoleh 173 suara sedangkan Karman mendapatkan 187 suara.

Karman (31 tahun) dikenal sebagai kader GPI yang masih sangat muda namun dengan kekuatan tim sukses yang solid, ia berhasil mengungguli seniornya, Tubagus (39 tahun).

“Bagaimana menyatukan dua organisasi di PW, PD dan atau PC merupakan tugas yang memakan banyak energi, dan ini adalah menjadi fokus utama kita ke depan,” kata Karman seusai terpilih sebagai ketua umum periode 2013-2016.

Selain itu, penyatuan ini mesti disosialisasikan ke seluruh kader se Indonesia dan masyarakat.

“Mudah-mudahan ini bisa menjadi inspirasi bagi semua pihak bahwa kita bisa bersatu,” katanya.

GPII merupakan organisasi Islam yang berdiri pada 1945 dan terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

GPII sempat berbeda pendapat dengan rezim yang berkuasa. Pada 1970-an organisasi ini berganti nama menjadi GPI.

Setelah reformasi GPI mencoba berubah kembali menjadi GPII tapi gagal bahkan pecah menjadi dua organisasi yakni GPI dan GPII.

Kongres bersama di Medan merupakan upaya melanjutkan islah dan berhasil melahirkan kesepakatan untuk kembali satu dengan nama GPII.

Sumber : rimanews.com

Baca Juga

Ketua Umum PP GPII Disebut Sebar Berita Fitnah

Skalanews – Kuasa hukum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Islam (PP GPI), Khoirul Amin,SH. menyebut Ketua …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *